”Saya Dipukuli di Depan Pak Mikel Sambil Darah Berceceran di Lantai”

Hotel Satria Karimun yang diduga dijadikan sebagai pusat perjudian dan pelacuran di Tanjungbalai Karimun, dan tetap beroperasi, meski desakan untuk ditutup gencar dilakukan masyarakat di kabupaten itu. (PenajamNews)

* Pengakuan Remaja Korban Perjudian Hotel Satria di Karimun (1)

SENJA mulai meredup dan bayang-bayang pepohonan menghilang diblur kegelapan malam saat wajah Muhammad Hakim (19) terlihat muram menceritakan pengalaman mengerikan akibat penganiayaan di Hotel Satria, Minggu, 27 Februari 2022 dini hari. Ruangan Gelanggang Permainan Anak-anak (Gelper) Hotel Satria, Karimun, menorehkan derita amat dalam di hati remaja itu.

Rumah sederhana di Kampung Tanjunguma, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun, diterangi lampu pijar temaram. Muhammad Hakim masih trauma saat menceritakan pengalaman menyakitkan dianiaya sekelompok pria dewasa di Hotel Satria Karimun. Muhammad Hakim terlihat percaya diri, saat kedua orangtuanya, Pendi (68) ayahnya, dan Ngadian (48) ibunya menemani dirinya saat bertutur ke tim PenajamNews.com.

Ngadian, ibu korban penganiayaan, Muhammad Hakim (kiri), saat memberi keterangan tentang penganiayaan anaknya. (PenajamNews)

”Saya dipukuli oleh empat orang di depan Pak Mikel, pemilik Hotel Satria, sampai saya tidak ingat lagi apa yang terjadi. Ketika Pak Mikel memerintahkan pemukulan dihentikan untuk menarik nafas, saya melihat darah saya berceceran di lantai,” ungkap Muhammad Hakim (MH) dengan tersendat-sendat akibat perasaannya yang tertekan.

Saat Ngadian menanyakan pengelola, mengapa anaknya terjerat hutang dan dianiaya di Hotel Satria, pengelola mengakui Muhammad Hakim berhutang karena main jackpot. ”Saya menanyakan, mengapa anak saya dipukuli dan disebut berhutang sampai sebesar itu (Rp18 juta), mereka menjawab karena anak saya berhutang main jackpot. Jackpot itu judi,” kata Ngadian dengan lugas.

Bukan berhenti di situ saja. Setelah penganiayaan ‘ronde’ pertama dilakukan terhadap kedua remaja itu, Mikel, pemilik dan pengelola Hotel Satria Karimun, memberi aba-aba para ‘algojo’ di ruangan Gelper itu melanjutkan aksi brutal mereka. MH, anak yang sedang ketakutan itu kembali dihujani tendangan dan pukulan hingga terkapar di lantai Gelper Hotel Satria.

”Tolooong….saya tidak punya uang sekarang, tetapi akan segera saya usahakan,” kata MH menirukan teriakan minta tolong saat para preman di Gelper itu menyerang dengan pukulan yang seakan meremukkan badannya yang tergolong kurus. Muhammad Hakim menunjukkan sekujur tubuh yang masih terlihat bekas memar. Dadanya masih terasa sesak ketika menarik nafas. Dia mengaku masih merasakan kesakitan akibat siksaan yang diterima beberapa hari sebelumnya.

Remaja korban penganiayaan pemilik dan pengelola Hotel Satria, Karimun, Muhammad Hakim (kiri) bersama ayahnya, Pendi. (PenajamNews)

”Tidak ingat lagi berapa kali tendangan ke tubuh saya. Yang saya lihat, setelah siuman, darah mengalir di lantai, tetapi pukulan ke dada dan bagian tubuh saya yang lain, terus saja dilakukan, walaupun saya minta tolong untuk dihentikan,” tuturnya. Meski dirinya mengaku akan membayar hutang di pusat perjudian Karimun itu, namun para algojo ‘bayaran’ Mikel tampaknya tidak puas melampiaskan keberingasan di bawah komando pemilik Gelper dan Hotel Satria Karimun itu.

Peristiwa yang dialami Muhammad Hakim, ternyata bukan peristiwa tunggal. Rekannya Muhammad Dani (MD), 18 tahun, yang masih duduk di Kelas XII SMA I Negeri Karimun, juga mengalami peristiwa yang sama. ”Saya dipukuli oleh enam orang, tetapi saya tidak mengenal mereka semuanya. Kami terjerat hutang di gelanggang permainan. Karena tidak bisa membayar lagi, sampai Rp20 juta, kami dipukuli (dianiaya),” kata Muhammad Dani, saat menuturkan pengalamannya kepada PenajamNews.com, di tempat terpisah.

Surat pengaduan ayah salah satu korban penganiayaan yang dilakukan pemilik dan pengelola Hotel Satria Karimun. (PenajamNews)

Ngadian, ibu Muhammad Hakim, menuturkan awal terbongkarnya penganiayaan dan penyekapan anaknya. ”Teman-temannya (teman MH) mengadu; Hakim Bu…. Hakim! Dipukuli dan ditahan di Hotel Satria. Kata teman-teman Hakim datang ke rumah sudah menjelang subuh,” kata Ngadian mengingat peristiwa Minggu, 27/2/2022.

Dia mengingat-ingat, saat itu jarum jam telah menunjukkan pukul 04.00 WIB. ”Saya datang bersama suami meminta pengelola mengeluarkan anak saya. Tapi mereka (pengelola Hotel Satria) bilang tidak bisa! Mau ditebus dulu Rp18 juta,” kata Ngadian. Ngadian sempat panik mendengar hutang anaknya sebanyak itu. Dia mengaku tidak dapat memenuhi tuntutan pemilik Gelper dan Hotel Satria.

Saat Ngadian menanyakan pengelola, mengapa anaknya terjerat hutang dan dianiaya di Hotel Satria, pengelola mengakui Muhammad Hakim berhutang karena main jackpot. ”Saya menanyakan, mengapa anak saya dipukuli dan disebut berhutang sampai sebesar itu (Rp18 juta), mereka menjawab karena anak saya berhutang main jackpot. Jackpot itu judi,” kata Ngadian dengan lugas.

Di saat anaknya tidak dapat ditemui karena disekap di ruangan Gelper yang telah ditutup oleh pengelola, Ngadian memutuskan untuk melapor ke Polres Karimun. ”Satu-satunya usaha kami adalah melapor ke Polres Karimun. Tetapi polisi yang menerima pengaduan saya tidak mau merespon sama sekali. Saya sudah bilang anak saya disekap di Hotel Satria. Tolong dilepaskan. Dia juga dipukuli. Tetapi polisi malah mendiamkan laporan saya,” kata Ngadian.

Pendi, suaminya, membenarkan penuturan istrinya. ”Malah pengelola hotel menanyakan saya. Bapak kerja apa? Saya jawab: Saya jual ikan. Mikel tanya, banyak uangnya? Apa pekerjaan kamu bisa (ada uang) menebus tak?” Itu yang menyakitkan hati saya. Apa pun akan saya lakukan kalau harus membayar sebegitu banyak untuk melepaskan anak saya,” papar Pendi.

Namun, hingga berapa jam dia berada di lobi Hotel Satria Karimun itu, anaknya tidak dilepaskan. ”Saya tidak diberikan kesempatan bertemu anak saya. Belakangan saya baru ketahui bahwa anak saya dianiaya hingga berdarah-darah. Bekas darahnya dibersihkan dulu, makanya tidak diberi kesempatan bertemu. Dan anak saya juga diancam untuk tidak memberitahu kami penganiayaan yang dia alami,” ujar Pendi.

Dalam penelusuran PenajamNews.com, ternyata Gelper yang dimaksud telah berubah menjadi arena judi. ”Hotel Satria Karimun, sekarang menjadi pusat perjudian di sini. Ada Jackpot dan berbagai jenis perjudian. Di sana pakai kredit, pemain bisa membeli kredit dan membayarnya di kasir,” tutur seorang mahasiswa dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Karimun.

Edi, salah satu pelaku penganiayaan yang masih buron. (PenajamNews)

Dua anak remaja yang dianiaya dan disekap di arena Gelper pada subuh Minggu, 27/2/2022 itu, bukan korban pertama. ”Sudah banyak peristiwa penganiayaan dan penyekapan di hotel tersebut. Saya belum selesai me-mediasi kasus pemukulan dan penyekapan yang berakhir pada kata perdamaian. Sekarang muncul lagi penganiayaan yang baru. Kasus (MH dan MD) ini, sudah sempat diproses di Polres sebelum diserahkan ke saya sebagai kuasa hukum,” kata Jefri, seorang pengacara di Karimun.

Hotel Satria Karimun, kini menjadi ajang perjudian berkedok Gelanggang Permainan Anak-Anak. Sumber di Polres Karimun menuturkan, pihaknya tidak dapat berbuat banyak terhadap praktik perjudian di Hotel Satria. Pasalnya, pimpinan di Polres, di Dinas Pariwisata, hingga Bupati Karimun, selalu bungkam setiap kali ada protes dan pengaduan terhadap perjudian dan penganiayaan di Hotel Satria.

”Bukan rahasia lagi, kalau pemilik dan pengelola Hotel Satria sangat loyal membantu (baca: memeberi upeti) kepada kepala daerah, pimpinan instansi, termasuk kepolisian, jaksa maupun hakim. Bahkan media pun, selalu dapat ‘setoran’ dari Hotel Satria setiap bulan. Itu sebabnya mereka kebal hukum, dan tidak ada aparat yang mampu memproses hukum pemilik dan pengelola hotel tersebut,” tutur sumber PenajamNews.com di Karimun. (Bersambung……)

(Redaksi)